Salah satu ciri organisme atau mahluk hidup adalah pertumbuhan, pertumbuhan adalah salah satu ciri atau tanda dari kehidupan, tetapi bukan saja organisme yang mengalami pertumbuhan, organisasi juga dalam hal ini gereja Tuhan harus mengalami pertumbuhan, megapa ? karena ini adalah tanda gereja Tuhan yang sehat.[1]

Beberapa arti pertumbuhan gereja:

  1. Pertumbuhan gereja ialah segala sesuatu yang mencakup soal membawa orang-orang yang tidak mempunyai hubungan pribadi dengan Yesus Kristus ke dalam persekutuan dengan Dia dan membawa mereka menjadi anggota gereja yang bertanggung jawab. (C. Peter Wagner)
  2. Pertumbuhan gereja ialah kenaikan yang seimbang dalam kualitas, kuantitas dan kompleksitas organisasi gereja local. (Ron Jenson Dan Jim Stevens)
  3. Pertumbuhan gereja ialah berkurangnya penduduk Neraka dan bertambahnya penduduk Surga.

Dalam pertumbuhan gereja ada tiga komponen pertumbuhan arah yang kita harapkan dapat tercapai, yaitu Pertumbuhan secara Kuantitas, Pertumbuhan secara Kualitatif dan Pertumbuhan secara Organisasi.[2]

1.      Pertumbuhan Kuantitatif.

Pertumbuhan Gereja secara kuantitaf atau jumlah adalah alkitabiah karena disebut dalam Alkitab khususnya dalam kitab Kisah Para Rasul. Gereja mula-mula bertumbuh secara kuantitatif:

–       Jumlah jemaat pemula 120 orang. (Kis 1:15);

–       Bertambah menjadi 3.120 orang (Kis 2:41);

–       Bertambah menjadi 5.000 orang  (Kis 4:4);

–       Bertambah terus menjadi puluhan ribu orang percaya (Kis 6:7; 11:21; 21:20)

2.      Pertumbuhan Kualitatif

Dalam Kisah Para Rasul 2:42-47; 4:32-37 dijelaskan tentang gereja mula-mula yang mengalami pertumbuhan kualitatif baik dalam hubungan mereka dengan Tuhan (vertikal) maupun dalam hubungan mereka dengan sesama (horizontal). Pertumbuhan kualitatif itu nampak dalam hal:

  •  Adanya perubahan tingkah laku dan karakter, di mana mereka hidup dalam ”ketakutan” (ayat 43), ”kesatuan” (ayat 44), dan ”kasih” (ayat 45).
  • Adanya ketekunan dalam pengajaran Rasul-Rasul, dalam persekutuan, dalam doa, dan dalam ibadah bersama (ayat 42,47).
  • Adanya pengorbanan harta benda untuk keperluan sesama dan pelayanan (ayat 45).

3.      Pertumbuhan Organik.

Pertumbuhan gereja secara organik dicerminkan dalam perkembangan organisasi dan struktural.  Gereja adalah organisme yang kompleks yang harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang berbeda.  Apabila kebutuhan itu tidak terpenuhi, maka akan timbul berbagai masalah.  Akibatnya mungkin gereja akan berhenti bertumbuh secara kualitatif karena gereja tidak mengembangkan kepemimpinan yang cakap dan cukup untuk melayani anggota jemaat. Semantara gereja bertumbuh secara kuantitatif dan kualitatif, gereja harus bertumbuh juga secara organik. Dengan demikian akan dapat mempertahankan pertumbuhanya.

Hal ini sangat jelas dalam gereja mula-mula dalam Kisah Para Rasul 6, bahwa ketika jumlah murid makin bertambah, maka muncullah persungutan diantara orang-orang Yahudi karena pembagian kepada janda-janda diabaikan.  Hal itu terjadi karena jumlah anggota telah mencapai ribuan orang, sedangkam yang melayani sangat kurang.  Dengan adanya masalah itu maka para Rasul mulai mengembangkan kepemimpinan untuk melayani anggota jemaat, dengan memilih tujuh orang dari antara mereka yang penuh iman dan Roh Kudus untuk melayani. Dengan demikian, Firman Allah makin tersebar dan jumalah murid bertambah banyak.

Jika kita ingin agar supaya ketiga komponen pertumbuhan tersebut bertumbuh seimbang dan saling mendukung, maka gereja harus menjadi suatu persekutuan (organisasi) yang sehat sehingga berdampak pada tingkat pertumbuhan secara kualitatif maupun kuantitas. Untuk mewujudkan hal tersebut gereja sebagai suatu persekutuan harus memiliki suatu perecanaan jangka panjang untuk dapat menjawab pertanyaan dasar :

  • “Siapakah kita?, “Kemana kita pergi?”, “Bagaimana kita ke sana?”, “Apa makna (keberadaan) kita?”
  • Membantu gereja mengungkapkan visinya dan mengidentifikasi langkah-langkah menuju visi tersebut.
  • Pendekatan yang berkelanjutan atas pemikiran strategis terhadap pelayanan masa depan.
  • Menciptakan fokus dan kemampuan gereja terhadap perubahan internal-eksternal dalam perjalanannya.
  • Suatu proses agar gereja melihat dirinya dan lingkungannya dan berusaha mengoptimalkan “fungsi” dan keberadaannya bagi lingkungan tersebut

Suatu studi baru-baru ini tentang hubungan antara proses perencanaan jangka panjang dan keefektifan pelayanan yang dilakukan di tengah-tengah para pendeta senior ditemukan bahwa[3] :

  1. Gereja-gereja yang lebih besar (jemaatnya terdiri dari 2.500 orang atau lebih) di Jakarta cenderung melakukan perencanaan jangka panjang secara tertulis.
  2. Kebanyakan gereja telah menggunakan perencanaan jangka panjang selama kurang lebih tiga tahun dan telah mencapai peningkatan pengunjung 100 persen, dua kali rata-rata tingkat pertumbuhan yang dialami oleh gereja-gereja yang tidak menggunakan perencanaan jangka panjang.
  3. Keefektifan pelayanan ditingkatkan dengan rencana tahunan dan rencana jangka panjang secara tertulis.
  4. Kekurangan dalam perencanaan tertulis ( tahunan / jangka panjang ) merintangi kemampuan maupun efektivitas gereja / pendeta dalam melayani jemaat ( masyarakat ).

 

Apakah Perencanaan itu ?

Perencanaan dapat didefenisikan sebagai “Suatu aktivitas manajerial yang mencakup menganalisa lingkungan, menetapkan tujuan, menentukan tindakan yang khas yang diperlukan untuk mencapai tujuan, dan juga untuk memberikan umpan balik atas hasil yang dicapai”.[4]

Ada beberapa Type Perencanaan, tetapi kebanyakan dapat dikategorikan dalam 2 (dua) type Strategis atau Taktis.

  • Rencana-rencana yang strategis meliputi suatu periode waktu yang panjang dan dapat disebut Rencana Jangka PanjangRencana-rencana jangka panjang mempunyai cakupan yang luas dan pada dasarnya menjawab pertanyaan bagaimana suatu organisasi harus menggunakan sumber dayanya selama lima hingga sepuluh tahun berikutnya. Rencana-rencana strategis tersebut tidak terlalu sering diubah demi merefleksikan perubahan-perubahan dalam lingkungan atau keseluruhan arah pelayanan.
  • Rencana-rencana taktis meliputi suatu periode waktu yang pendek, biasanya setahun atau kurang dari setahun. Rencana taktis disebut juga Rencana Jangka Pendek atau Rencana Operasional. Rencana-rencana ini menentukan apa yang harus dikerjakan pada satu tahun tertentu untuk menggerakkan organisasi menuju tujuan jangka panjang. Dengan kata lain, apa yang kita kerjakan tahun ini (jangka pendek) perlu dihubungkan dengan kemana kita hendak berada dalam lima tahun sampai sepuluh tahun mendatang (jangka panjang)

 KONDISI PERENCANAAN GEREJA MASA KINI

Kenyataannya kebanyakan gereja dan pelayanan yang telah terlibat dalam perencanaan lebih berfokus pada jangka pendek dari pada jangka panjang, yang berarti bahwa setiap rencana tahunan tersebut tidak berhubungan dengan segala sesuatu yang sifatnya jangka panjang dan biasanya gagal dalam menggerakkan organisasi ke arah yang diinginkan pada masa depan.

Lebih lanjut  Alvin J. Lindgren mengamati bahwa : “Kebanyakan gereja tidak terlibat dalam perencanaan jangka panjang yang sistematis. Barangkali inilah alasan mengapa gereja belum mampu menjangkau masyarakat dan mengubah masyarkat dengan lebih efektif. Banyak gereja yang beroperasi berdasarkan perencanaan yang payah (parah). Mereka mempertimbangkan berbagai masalah yang mendesak dalam setiap pertemuan pengurus tanpa menempatkan maalah-masalah itu dalam perspektif yang tepat dalam kaitannya dengan masa lampau maupun masa depan”.

Lebih lanjut untuk menganalisa apakah gereja kita telah memiliki perencanaan yang strategis (jangka panjang) pertimbangkanlah pertanyaan-pertanyaan berikut ini :

  • Apakah anda tahu kemana anda pergi dan bagaimana Anda bisa sampai kesana?
  • Apakah setiap orang tahu apa yang sedang Anda coba capai? apakah setiap orang yang terlibat mengetahui apa yang diharapkan?

Jika jawaban salah satu pertanyaan adalah tidak, gereja Anda atau pelayanan Anda perlu mengembangkan suatu rencana jangka panjang dengan melibatkan sebanyak mungkin orang.

Ada tiga alasan mengapa Perencanaan tidak dilaksanakan dalam gereja dan pelayanan saat ini, yakni[5] :

A.    Kurangnya Pelatihan Manajemen

Kebanyakan pendeta mempunyai pendidikan dan pengalaman manajemen yang kurang memadai sebelum memasuki kegiatan pelayanan dan mereka menghabiskan waktu melakukan fungsi pastoral karena dalam bidang itulah mereka terlatih. Selanjutnya, sedikit gereja yang dapat mengumpulkan sekelompok warga jemaat yang berpendidikan atau memiliki keterampilan menajemen. Dengan demikian, perencanaan, penetapan tujuan (sasaran), dan Fungsi manajemen lainnya sebagaian besar justru diabaikan.

B.     Perencanaan Dianggap Tidak Alkitabiah

Penerapan dan penetapan tujuan dari tipe strategis sebagian besar dengan sengaja diabaikan atau dihindari oleh gereja-gereja. Keengganan menerapkan perencanaan bertitik tolak dari kenyataan bahwa banyak orang memandang penerapan perencanaan yang strategis ini tidak tepat dan tidak rohani (Van Auken dan Johnson, 1984). sebagian merasa gereja bukanlah perusahaan bisnis, mereka seharusnya tidak diatur sedemikian rupa.

Suatu studi yang cermat tentang Alkitab menunjukkan bahwa orang-orang percaya patut dan harus melakukan perencanaan untuk urusan-urusan mereka sehari-hari. Apakah yang dikatakan oleh Alkitab tentang perencanaan? Kita percaya bahwa Roh Kudus menolong kita untuk mengetahui kehendak dan tindakan Allah. Kita melakukan yang terbaik, kemudian meminta Allah memberikan yang terbaik. Roh kita dikuatkan ketika rencana yang benar berada dalam kehendak Allah. Pertimbangkanlah ayat-ayat ini :

  • Mazmur 20 : 5     : “Kiranya diberikan-Nya kepadamu apa yang kau kehendaki dan dijadikanNya berhasil apa yang kau rancangkan”.
  • Mazmur 127:1     :     “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga”.
  • Amsal 15 : 22 :    “Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak”
  • Amsal 16 : 3   :    “Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu”.
  • Amsal 16 : 9   : “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya”.
  • Amsal 20 : 18 :    “Rancangan terlaksana oleh pertimbangan, sebab itu berperanglah dengan siasat”.
  • Lukas 14 : 28  :    “Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu ?”
  • Kolose 3 : 23 :    “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia”.

Tokoh – tokoh Alkitab yang mengunakan perencanaan adalah [6]:

MUSA

Kita dapat melihat dengan jelas dalam Injil bahwa Musa adalah seseorang yang strategis — atau setidaknya ia belajar menjadi seseorang yang strategis. Musa berjuang sebagai pemimpin setelah ia memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Ayah mertuanya, Yitro, datang menemuinya setelah mendengar perkara besar yang Tuhan lakukan. Yitro melihat bahwa Musa dipenuhi dengan beban kepemimpinan dan memberikan rencana pemberian Tuhan — sebuah strategi — untuk menghadapi masalah yang dialaminya. Yitro mengajar Musa bagaimana menetapkan rencana strategis dengan mendelegasikan tugas sehingga ia tidak menanggung beban seorang diri. Hasilnya, tenaga manusia yang ada saat itu digunakan dengan lebih efektif dan tujuannya tercapai. Musa juga berpikir strategis saat dia mengirim mata-mata ke tanah Kanaan.

YOSUA

Yosua, anak didik Musa, juga menampilkan kepemimpinan yang strategis. Dalam Yosua 6, Tuhan memberi Yosua sedikit pelajaran tentang pemikiran yang strategis. Yosua akan membawa bangsa Israel ke Tanah Perjanjian, mereka menghadapi musuh pertama di Tanah Perjanjian itu. Mereka menghadapi yang namanya tembok Yerikho. Tuhan memberi Yosua sebuah strategi. Ia bisa saja turun dari surga dan memorak-porandakan kota Yerikho, namun Tuhan memilih untuk bekerja melalui sebuah strategi yang melibatkan umat-Nya. Tuhan terus bekerja melalui anak-anak-Nya sampai sekarang.

NEHEMIA

Nehemia adalah seorang pemimpin yang ditunjuk Allah yang menggunakan strategi dalam memimpin. Saat Tuhan memberinya tugas kepemimpinan untuk membangun kembali tembok Yerusalem, Nehemia mulai menetapkan dan kemudian bekerja melalui strategi yang direncanakan dengan baik untuk mencapai visi yang Tuhan berikan. Ia menilai kerusakannya. Ia mengamankan sumber-sumber yang ada. Ia memilih pemimpin-pemimpin dan memberi mereka tugas. Semua orang yang pernah membuat sebuah bangunan, dari sebuah rumah anjing sampai rumah tiga kamar, akan mengakui pemikiran strategis Nehemia — membangun terlebih dulu tembok kota Yerusalem.

DAUD

Sejak kecil, Daud adalah seorang pemikir yang strategis. Ia tidak mengalahkan Goliat dengan kekuatannya atau kehebatan senjata yang dimilikinya. Dia mengalahkan Goliat dengan menggunakan strategi yang diberikan Tuhan kepada-Nya yang menunjukkan kelemahan lawannya. Kemudian, sebagai pemimpin pasukan, Daud menggunakan strategi dalam berperang. Daud memerlukan orang-orang yang dapat memikirkan dan merencanakan segala sesuatu dengan strategis, dan Tuhan memberikannya bani Isakhar (1 Taw. 12:32).

YESUS

Perjanjian Lama dipenuhi dengan teladan-teladan pemimpin yang menetapkan rencana strategis dan melaksanakannya. Bagaimana dengan Perjanjian Baru? Kita dapat melihat Yesus sebagai teladan yang luar biasa dalam hal penerapan strategi. Ia memulai misi-Nya dengan memilih murid-murid, mengembangkan mereka, kemudian mengirim mereka “sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8). Strateginya meliputi beberapa pengajaran di hadapan publik dan mukjizat. Akhirnya, strategi-Nya membawanya sampai kepada salib, kubur, dan kebangkitan. Yesus Kristus mengerti benar rencana untuk menebus semua manusia jauh sebelum Ia meninggalkan surga untuk kemudian menjalankan rencana-Nya tersebut.

PAULUS

Rasul Paulus, pemain kunci yang mendirikan gereja mula-mula, memiliki strategi. Jelas sekali jika kita baca perjalanan pelayanannya, Paulus memilih kota-kota penting untuk mendirikan pangkalan pelayanannya. Ia memilih kota-kota di mana kemungkinan ia dapat memberi dampak besar kepada sebanyak mungkin orang. Efesus, misalnya, adalah pintu gerbang menuju Asia kecil.

C.    Masalah Pelaksanaan

Alasan penolakan yang sering dikemukakan ialah bahwa perencanaan tidak berguna dan kerap kali berhubungan dengan operasi (kegiatan) sehari-hari yang tidak penting dari gereja. Namun, pandangan ini hanyalah sekilas lalu jika dikaitkan dengan keberhasilan jangka panjang pada masa depan yang akan datang.

Dalam pikiran sebagaian pengguna perencanaan terdapat kesan bahwa perencaanaan kadang-kadang menjadi tujuan akhir. Hal ini secara khusus benar jika perencanaan hanyalah tanggung jawab dari suatu kepanitiaan dalam gereja. Team work dapat memfasilitasi proses perencanaan strategis, tetapi proses itu tidak akan mendarah daging secara dinamis dalam kegiatan organisasi tanpa keterlibatan yang terus-menerus dari Pendeta dan Penatua / Diaken, ada satu ucapan presiden Eisenhower yang sering dikuti berbunyi ,” Rencana tidak ada apa-apanya, tetapi perencanaan adalah segalanya”. Keyakinan yang ia ungkapkan adalah bahwa rencana aktual itu sendiri bukanlah tujuan akhir, tetapi proses perencanaan-pengembangan skenario masa depan, menilai lingkungan dan persaingan, menilai kekuatan dan kemampuan internal, merevisi tujuan dan taktik-adalah dialog organisai yang terpenting. Hasil akhirnya adalah pelaksanaan pelayanan yang lebih efektif dan efisien oleh karena itu Perencanaan tidak hanya patut dikerjakan, tetapi harus dikerjakan.

 Keuntungan Perencanaan dalam gereja dan pelayanan

Pada dasarnya ada dua alasan membuat perencanaan yaitu :

  1. Manfaat protektif, yakni berkurangnya kemungkinan membuat kesalahan dalam pengambilan keputusan dan
  2. Manfaat positif, yaitu bertambahnya keberhasilan dalam mencapai sasaran pelayanan.

Lebih penting lagi perencanaan jangka panjang dapat menjadi sebuah sarana pembaruan dalam kehidupan jemaat jika hal-hal berikut diperhatikan :

  1. Kesatuan jemaat dapat dicapai hanya jika semua segi kehidupan gereja melihat dirinya sendiri sebagai bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar dengan satu sasaran tunggal;
  2. Jika perencanaan kurang hati-hati, maka sering terjadi persaingan antara kelompok-kelompok dalam gereja dan meniru pekerjaan antara yang satu dengan yang lain.
  3. Tanpa perencanaan yang terorganisasi, kelompok-kelompok dalam gereja dapat merasa dirinya sebagai suatu tujuan pada dirinya sendiri dan kehilangan perspektif dalam hubungannya terhadap gereja
  4. Perencanaan jangka panjang dibutuhkan karena besarnya tugas gereja (Lingren,1965)

Gereja dapat memperoleh keuntungan dari proses perencanaan ini karena proses yang sistematis dan berkelanjutan ini memungkinkan kita untuk :

  1. Menganalisa posisi gereja, yaitu dengan cara  analisis SWOT (singkatan dari Strengths, weaknesses, Opportunities, Threats) yang menilai kekuatan, kelemahan internal gereja serta kesempatan atau peluang dan ancaman dari eksternal gereja. Tanpa perencanaan yang jelas dan berkelanjutan mustahil unsur ini diketahui.
  2. Menentukan Tujuan, sasaran, priorotas, dan strategi yang dilengkapi dalam periode tertentu. Perencanaan akan memampukan gereja untuk menilai sasaran yang telah ditetapkan dan akan menolong memotivasi Majelis Jemaat dan Anggota Jemaat untuk bekerja bersama-sama guna mencapai tujuan bersama.
  3. Mencapai komitmen dan kerjasama yang lebih besar dari para Penatua / Diaken dan anggota jemaat yang diarahkan untuk menghadapi tantangan dan menanggulangi masalah yang ditimbulkan oleh kondidi-kondisi yang berubah-ubah,
  4. Mengarahkan sumber dayanya untuk menghadapi perubahan-perubahan tersebut melalui antisipasi dan perisiapan. “Menyesuaikan diri atau mati” adalah suatu peringatan yang sangat tepat

Bagaimana dengan gereja kita? Apakah ketiga komponen pertumbuhan gereja itu telah berjalan seimbang?  Ingat, kehidupan bergereja tidak cukup hanya dengan ‘4-D’ (Datang, Duduk, Diam-dengar firman Tuhan-, dan Duit-persembahan).  Sangatlah baik Jemaatnya dapat menjadi berkat bagi orang lain, baik lewat kesaksian secara verbal yang mereka beritakan tentang Yesus kepada sesama maupun lewat kehidupan nyata mereka sehari-hari, serta akan lebih baik kehadiran  gereja dan pelayanan dapat membawa dampak yang baik bagi masyarakat.

 

Kesimpulan

Tulisan ini berupaya untuk membangun keyakinan kita bahwa :

  • Metode yang sukses digunakan dalam industri dapat juga diterapkan dalam gereja dan pelayanan yaitu perlunya perencanaan strategis (jangka panjang) dalam gereja dan pelayanan.
  • Ada tempat bagi perencanaan dan manajemen yang lebih baik agar gereja dan pelayanan kita berdampak pada lingkungan.
  • Banyak pendeta dan pengurus gereja benar –benar meyakini perlunya perencanaan.
  • Kita tidak dapat saling menyalahkan atas banyaknya kegagalan yang kita alami dalam gereja dan pelayanan .
  • Di atas semua itu, Alkitab mendukung pemahaman yang terus berkembang tentang konsep perencanaan

[1] Naomi Meilyna Tjahyana Hadi, Jakarta, July 16, 2009,  Published to Christian Magazine “TRUTH

[2] Pdt Theopilus Maupah. S.Th., Papua, 2010, Gereja yang bertumbuh, BPK

[3] Majalah Anugera Edisi Januari 2012, Jakarta

[4] Migliore, Henry R dkk, 2010, Perencanaan Strategis Dalam Gereja dan Pelayanan dari Konsep menuju Keberhasilan, BPK Gunung Mulia:    Jakarta

[5] Migliore, Henry R dkk, 2010, Perencanaan Strategis Dalam Gereja dan Pelayanan dari Konsep menuju Keberhasilan, BPK Gunung Mulia:    Jakarta

[6] Strategi dalam Kepemimpinan Kristen, Artikel  Sabda.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s